Pletaaaaaakkkkk……..
“ouhhhhh……” aku mengerang kesakitan ketika ada sesuatu yang menimpa di kepala ku. Aku tak peduli apa yang menimpa kepala ku, yang ingin aku ketahui saat ini adalah siapa yang melempar sesuatu itu hingga mengenai kepala ku. Aku membalikkan badan ku mencari siapa yang sudah berani melempar sesuatu di kepala ku. Tapi di belakang ku tidak ada orang, ku tengok kanan – kiri seperti seekor monyet yang nyari pisang.. tapi aku juga tak melihat ada siapa-siapa. Akhirnya aku putuskan tidak mempedulikan kejadian yang tadi walaupun kepalaku masih terasa pening kaya di tusuk-tusuk jarum.
Nessie bisa marah pada ku kalau aku tak segera menjemputnya di bandara. Hari ini dia pulang dari Washington . Aku lirik jam di tangan ku ternyata kurang 10 menit lagi aku harus sampai di bandara karena kalau aku telat satu detik saja dia pasti akan mencreweti ku habis-habiskan. Aku sangat merindukannya, kecrewetannya, ke usilannya dan semua tentangnya.
Pletakkkk….
“ouh… gila siapa cih yang dari tadi jailin gue?? Belum tau apa kalau aku tuh jago maen kar…. Karambol -.- “
Mata ku mencari – cari orang yang jail itu. “Uhhh…. Menyebalkan sekali kau… kalau berani keluar jangan maen sembunyi-bunyi kaya anak kecil tau !! “ ucap ku dengan nada sewot.
Aku sembunyi di belakang pohon cemara, mencari tau siapa tadi yang melempari kepala ku pakai kerikil. Aku menahan nafas ku beberapa detik lalu ku lihat seorang gadis yang berambut ikal panjang berwarna keemasan dengan tinggi ± 165 cm dan tidak terlalu gemuk malah mendekati kurus, dia memakai long dress panjang berwarna ungu dan high hell. Dia membelakangi ku sehingga aku tak bisa melihat secara jelas siapa wanita itu. Dilihat dari gerak – geriknya sepertinya dia sedang mencari seseorang. Apakah dia yang menimpuk kepala ku? Ah tidak mungkin dia, dia kan cantik.
Aku masih memperhatikannya, dia masih berjalan mundur membelakangi ku beberapa senti lagi dia bisa menabrak ku. Aku mencium aroma parfum… aku sangat mengenali parfum ini, seperti parfum yang biasa di pakai oleh Nessie. Tapi apa mungkin dia Nessie? Nessie kan tubuhnya tidak seramping itu dan lagi pula terakhir bertemu dengannya kan rambutnya di potong seperti anak laki- laki dan dia juga selalu memakai baju laki-laki.
Dia masih berjalan mundur, sebaiknya aku menangkapnya biar dia tau rasa.
“Yappp…. Kena kau, kau pasti yang melempari kepala ku dengan batu kan ? “ aku memeluknya dari belakang. Dia mencoba melepaskan diri kemudian berbalik kearah ku. Sungguh terkejutnya aku bahwa yang ku peluk saat ini adalah Nessie, aku terperanga melihatnya. Dia sungguh berbeda. Dia yang dulu tomboy sekarang jadi feminim, dia sangat cantik. “Waww kejutan “ aku memandangnya tanpa berkedip. Dia tertawa .
“Kau benar Nessie kan ?” aku masih tak percaya apa yang ku lihat saat ini.
“Kau pikir aku siapa? Di dunia ini gag da wanita yang secantik aku” dia lalu memelukku erat.
“Kau memang cantik, tapi tetap saja kau usil” aku menarik hidungnya yang mancung tapi mungil.
“Aku merindukan mu Jake” dia mengacak-acak rambut ku yang sudah ku olesi pakai minyak goreng.
“Aku juga, Btw sejak kapan kau mulai pakai make up dan pakaian seperti itu?” aku melepaskan pelukan ku lalu mengamati tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Sejak aku mengenal cinta” dia mengedipkan matanya genit.
Aku merasa ada sesuatu yang menghantam jantung ku, mengenal cinta?? Cinta sama siapa? Apa di washinton dia mempunyai pacar? Kalau iya berarti selama ini cinta ku bertepuk sebelah tangan.
“Oh ya? Baguslah kalau begitu” aku buat ekspresi ku seterkejut mungkin.sebenarnya aku tidak suka mengatakan itu. Tapi aku harus berkata apa lagi kalau tidak begitu.
“Ya… dan suata saat nanti aku akan mengenalkannya pada mu” ucapnya sambil menarik tangan ku mennuju ke marcedess merahnya.
“Mobil mu baru ya?” aku mengelus-elus cat mobilnya, sepertinya harganya mahal karena ini keluaran terbaru.
“Iya, orang yang ku cintai telah membelikan ku mobil” ucapnya sambil menstater mobil. Mobil melaju dengan kecepatan pelan, bahkan pelan sekali mungkin 10km/jam. Benar-benar berubah.
Mendengar kata-katanya nyali ku menciut, pasti laki-laki yang berhasil mengambil hati Nessie adalah orang kaya karena sudah membelikannya sebuah mobil. Sedangkan aku?? Untuk makan aja aku susah…. Aku juga Cuma punya 5 pasang baju doang. Tapi aku masih beruntung karena Nessie sudah mau berteman dengan ku sejak dulu. Mungkin sangat mustahil bila dia mencintaiku, aku tidak punya apa-apa untuk bisa di banggakan di depannya. Aku hanya memiliki sepeda ontel warisan dari kakek ku, bahkan sepeda ontel ku pun sudah karatan.
“Baguslah kalau begitu, jadi kau tak perlu menebeng sepeda ontel ku yang karatan itu”
“Aku pasti merindukan sepeda ontelmu itu” di lihat dari wajahnya sepertinya dia sangat senang.
“Hmmmm….. sulit di percaya kalau harus bersaing dengan mobil semewah ini” aku menggembungkan pipiku. Dia meninju pipi ku. Kami tertawa. Namun dalam hati aku menangis.
Akhirnya sampai juga di la push tempat dimana aku dan Nessie selalu menghabiskan waktu bersama. Dia berlari-lari di bibir pantai, long dress yang ia kenakan melambai-lambai tertiup angin. Aku berlari untuk mengejarnya. Dia berhenti berlari dan mengatur nafasnya. Aku membopongnya di bahu ku dan memutar-mutarkannya. Tiba-tiba ada suara ponsel berbunyi. Ternyata punya Nessie, wah benar-benar kemajuan selain dia punya mobil mewah dia juga punya ponsel, ponselnya juga bisa buat photo-photo. Aku menguping pembicaraannya.
“Hai sayang, iya aku sudah sampai di forks, kau tak perlu khawatir walaupun aku belum punya SIM tapi aku sudah tau betul jalan-jalan yang tak ada polisinya” suaranya nyaring dan bersemangat. Hati ku seperti tercabik-cabik mendengarnya memanggil sayang.
“Oke, aku tidak akan telat makan, makacih ya,,,, bye” Nessie menutup telpnnya, dia tersenyum-senyum sendiri. Sepertinya dia benar-benar sedang di mabuk cinta.
Nessie berjalan mendekati ku yang sedang duduk di batu besar tidak jauh dari pantai.
“Sepertinya kau sangat mencintainya” ucapku tanpa menatapnya. Pandangan ku kosong lurus kedepan.
“Tentu, dia selalu memberi ku apapun yang aku mau” pipinya merona.
“Ya, tidak seperti aku yang tidak pernah membeikan mu apa-apa” aku menunduk meratapi nasib ku yang miskin.
“Kenapa kau berkata seperti itu?? Bagi ku kau adalah kakak terbaikku, yang selalu ada untukku meskipun aku selalu menjailli mu” dia menatap mata ku lekat-lekat. Aku langsung menoleh tidak membalas tatapannya. Karena menatapnya hanya akan membuat ku tambah sakit. Apalagi setelah ku tahu dia hanya menganggap ku sebagai kakak. Sungguh menyedihkan hidup ku ini.
Aku berjalan meninggalkannya. Sepertinya dia berlari mengejarku, tapi aku tidak mau menoleh kearahnya. Aku takut hati ku semakin remuk.
“Jake, tunggu… tunggu… ada yang ingin aku atakan pada mu” dia berhenti berlari, nafasnya tidak teratur. Dia mencoba menarik nafas pelan – pelan. Aku berhenti menunnggunya.entah apa yang akan dia katakan, semoga tidak menyakiti ku.
“nanti malam kau harus ikut aku, aku mau mengenalkan mu pada seseorang”
Keningku mengkerut, siapa yang ingin dia kenalkan? Apakah pacarnya? Kalau benar begitu berarti hidup ku semakin buruk.
“Oke kalau aku tidak lupa” aku mengayun kaki ku lagi berjalan meninggalkannya.
“Aku akan menjemputmu, jadi kau tak punya alasan untuk tidak ikut” suaranya setengah teriak , tapi aku mencoba sebisa mngkin untuk tidak mendengarnya.
Malam pun datang menyambut, perasaan ku semakin kacau, entah apa yang kurasakan, beberapa menit lagi Nessie akan datang menjemputku. Apa aku sebaiknya menolak saja ya ? bodoh… itu ide paling tolol, aku tidak boleh jadi seorang yang pengecut aku harus berani melewati semuanya. Aku menarik nafas dalam-dalam…. Ada seseorang yang membuka pintu. Rupanya Nessie benar-benar menepati janjinya. Perutku langsung mulas mendengarnya datang lebih cepat dari yang ia janjikan.
“Jake, dimana kau? Kau tidak lupakan kalau malam ini aku mengajakmu pergi?”
Aku bersembunyi di balik kursi berharap dia tidak menemukan ku sehingga aku tidak perlu ikut dengannya. ikut dengannya sama saja dengan mencabik – cabik hati ku sendiri. Apalagi kalau aku harus melihatnya bermesrah-mesrahan bersama kekasihnya.
“Ahha…. Kau tak bisa sembunyi lagi dari ku, apa yang kau lakukan di balik kursi itu jake” sial Nessie melihat ku sedang mengumpet. Aku lalu berdiri dengan wajah berantakan.
“A…. ak.. aku… aku sedang mencari kancing baju ku, tadi jatuh I bawah kursi” ucap ku terbata-bata. Untung aku memakai baju yang memang kancingnya hilang satu. Aku sendiri juga lupa kapan hilangnya tuh kancing, mungkin sudah bertahun-tahun yang lalu.
“Tidak jake, kau tampan dengan tidak ada kancing di bagian paling atas itu.” Buat apa dia memuji ku kalau pujiannya justru menyakiti ku.
“Ayo masuk ke mobil” dia menarik tangan ku. Aku langsung melepaskan tangannya.
“Tidak, sebaiknya aku naik sepeda ontelku saja” aku berjalan menghampiri sepeda tua ku.
“Kenapa?, ayolah jake kau ikut dengan ku saja, tidak asyk kalau aku harus sendirian di mobil” dia menatapku seperti memohon, aku tidak tega melihatnya. Jika aku teringat itu adalah mobil yang dibrikan oleh pacarnya perut ku langsung mulas dan membuat ku mual. Aku harus cari cara untuk menolaknya.
“Tidak Nessie… aku mual kalau harus naik mobil, kau tau sendirikan aku tidak pernah naik mobil?”
“Tapi kemarin kau tidak muntah”
“Itu hanya kebetulan, kalau aku sampai muntah di mobil mu pasti kau akan kesusahan menyuci mobil mu” dia terlihat sedang menimbang-nimbang sesuatu.
“Okelah, kalau begitu aku bonceng kamu pakai sepeda ontel mu itu”
“Aku tidak mau make up mu luntur karena tertiup angin, lagi pula nanti kau bisa masuk angin, apalagi baju mu itu tipis” dia tidak mempedulikan kata-kata ku, dan tanpa berdosa dia sudah bonceng di sepeda ku. -.- aku menghembuskan nafas sedikit jengkel.
Aku mengayuhkan sepedatua ku, aku sendiri sebenarnya tidak tau dia mau mennnngajakku kemana, dia bersandar di punggung ku seperti orang tidur, tidak bergerak dan tidak ada suara.
“Sebenarnya kita mau kemana?”
“Terserah kau” jawabnya tanpa menggerakkan badannya.
“Katanya kau mau mengenalkan seseorang pada ku? “ aku mengayuh sepedaku dengan pelan. Angin malam membelai kulit ku membuat bulu kuduk ku merinding..
“Kalau begitu aku akan menutup mata mu” dia turun dari sepeda ontel ku sebelum aku mengerem sepeda, untung saja dia tidak terjatuh. Lalu aku turun dari sepeda. Dia mengambil sapu tangan berwarna biru tua berbentuk persegi. Lalu di lipat-lipat. Entah untuk apa sapu tangan itu.
“Mata mu harus ku tutup”dia lalu berdiri di belakang ku dan menutup mata ku. Huh.. seperti apasih pacarnya itu, sampai-sampai mata ku harus di tutup. Aku menggerutu kesal.pasti laki – laki itu sangat memuakkan.
“Kau ini ,,, bagaimana bisa aku melihatnya kalau kau menutup mata ku?” ucap ku dengan kesal.
“Sudah kau diam saja ikuti apa kata ku”dia lalu memegangi sepeda ontel ku “biarkan aku yang di depan mengemudikan sepeda kesayangan mu ini, dan kau duduk di belakang mengayuh sepedanya” suaranya terdengar gemerincing seperti suara lonceng di gereja-gereja.
“Kau sekarang jadi sinting” dia tidak menjawab malah tertawa.
Mataku tertutup, entah sekarang ku berada dimana, Nessie masih melarang ku untuk membuka mata. Tapi dia menyuruhku untuk berhenti mengayuh sepedanya. Suasana disini ramai, mungkin banyak orang yang melihat ku.
“Alec, kau dimana?” Nessie menggandeng tangan ku mencari nama yang asing menurut ku, mungkin dia adalah pacarnya.
Siapa sih laki-laki itu, aku benar-benar ingin menonjoknya, aku sudah tidak sabar lagi untuk membuka mata ku.
“Ness , apakah aku sudah boleh membuka mata ku?” dia tidak menjawab karena tiba-tiba ada suara laki-laki.
“Hei Ness,, apa kau sudah lama menunggu ku? “ suara laki-laki itu mengalun merdu seperti seorang penyanyi dangdut. Mungkin dia laki-laki yang dimaksud Nessie. Aku mengeretakkan gigi ku, aku ingin sekali melumpuhkan syaraf-syarafnya.
“Iya, tidak terlalu lama hanya beberapa detik aja kog” jawab Nessie singkat.
“Kalau begitu aku boleh membawanya sekarang kan ?” hah,,, apa maksudnya laki-laki hidung belang ini? mau membawa ku kemana?… aaaarrrrggghhh… sepertinya dia ingin mempermainkan ku. Alec mencengkeram kuat tangan ku.
“Tentu”
“Tidak, Ness , hentikan kegilaan mu, apa yang akan laki-laki ini lakukan pada ku?” aku mencoba melawannya, tapi tangan Alec terus memegangiku erat.
“Tidak jake, kau tak perlu khawatir, dia hanya ingin mempermak mu saja” jawab Nessie enteng.
Apa mempermak? Apakah laki-laki ini akan membuat wajah ku rata,? apa dia akan menghilangkan hidung ku atau dia akan mentato bibir ku supaya seperti orang memakai lipstick? Oh tidak, itu ide buruk. Ucap ku dalam hati
“Ness ku rasa aku masih ingin hidup” aku masih mencoba melepaskan diri dari cengkraman tangannya. Tapi sia-sia.
“Kau tak perlu takut, tidak lama kok, mungkin hanya beberapa jam,,, upppsss… maksud ku beberapa menit” dia membenarkan kata-katanya, membuat ku semakin geram. Aku bersumpah ingin menonjok hidungnya kalau mata ku sudah tidak di tutup lagi.
Aku mengikuti langkah Alec yang terus menggenggam ku erat, entah aku mau di bawa kemana. Mungkin saat ini aku terlihat seperti orang tolol. Kalau saja aku tidak mencintai Nessie mungkin aku tidak mengikuti kata-katanya. Walaupun kenyataannya dia hanya menganggap ku sebagai kakak.
“Kau duduk di sini, aku akan mengambilkan sesuatu untuk mu” ucapnya lalu pergi meninggalkan aku dengan tangan ku terborgol di kursi.
Aku merasa ada yang melepasi pakaian ku, apa yang akan dia lakukan? Apa dia ingin mempertontonkan tubuh telanjang ku di depan orang lain? Aku benar-benar ingin mematahkan tulang rusuknya, setidaknya hanya dua atau tiga tulang rusuk yang ku patahkan itu sudah cukup membuat ku senang. Tapi apa daya dengan tangan terikat aku tak bisa melakukan perlawanan.
Dia memakaikan ku baju lagi, seperti jas atau apalah namanya aku tidak tau, tapi aku merasa nyaman dengan baju yang ku pakai ini, tidak seperti baju ku yang tadi ku pakai terasa panas dan bau, yeah… wajar saja karena aku jarang mencucinya, bahkan aku lupa kapan terakhir aku mencuci baju.
“Alice , bisa kau Bantu aku?” suara Alec meminta bantuan orang lain, membuat ku semakin tidak tahan di perlakukan seperti boneka berbie mungkin.
“Tentu dengan senang hati” suara perempuan itu gemericik seperti suara air terjun yang berjatuhan dan membentur-bentur batu di dasar sungai.
Aku merasakan gerakan tangan lembut seorang perempuan itu memainkan rambut ku, seperti mengacak-acak rambut ku, menyemprotkan entah wangi-wangian apa yang benar-benar memusingkan kepala ku. Aku juga merasakan tangannya menyentuh wajah ku menggunakan kapas atau apalah namanya , menggosok-gosoknya seperti sedang membersihkan muka ku. Aromanya membuat ku mual . aku sangat membenci ini.
“Well, sudah selesai” suara gemercik yang diduga sebagai pemilik nama Alice itu pun akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan tidak lagi-lagi mencoret wajah ku. Aku menghembuskan nafas lega.
Alec menggandeng tangan ku lagi, menuntunku entah kemana. Kemudian berhenti di suatu tempat. Alec melepaskan tangan ku dan Nessie membuka penutup mata ku. Aku mengucek-ngucek mata ku yang pedih karena tertutup terlalu lama. Aku melihat di sekitar ku, tempatnya terang dan aku juga melihat sesosok laki-laki dan perempuan pasti dia Alec dan Alice . Aku benar-benar ingin memukulnya, tapi dia malah tersenym ramah padaku membuat ku menunda melakukan kegiatan criminal.
Wajah Alec putih bersih memakai tuksedo warna abu-abu dan berdasi kupu-kupu, sementara Alice dengan rambutnya yang hitam pendek terlihat modis dengan bajunya yang berwarna biru muda selutut dan ada corak keemasannya di bagian leher di tambah shall warna merah yang ia pakai membuatnya terlihat tidak serasi tapi mampu membuat semua orang terpesona bila menatapnya.
“Aku sudah janji ingin mengenalkan mu pada seseorang” ya Tuhan suara Nessie membuat ku ingin lari sejauh mungkin. Aku tersenyum kecut.
“Kenalkan, dia Alec, dia adalah anak dari unca Aro, dan sebelahnya adalah Alice dia adalah adiknya dad” mendengar penjelasannya aku merasa lega karena artinya dugaan ku salah. Alec memang ganteng, kulitnya yang seputih marmer membuat perempuan tertarik padanya. untung saja dia saudaranya Nessie jadi aku tidak perlu khawatir lagi. Karena bila aku harus bersaing dengannya pasti aku kalah alias skak mat.
“Hai” hanya itu yang bisa aku ucapkan pada mereka. “Dimana pacar mu?” aku menanyakan sesuatu yang sebenarnya menyakiti hati ku sendiri, menyayat hati yang sudah terluka. Tapi aku laki-laki aku tak boleh menyerah,
“Kau balikan badan mu sekarang” aku mengikuti saran Nessie dan membalikan badan ku.
Aku melihat ada seorang laki-laki yang mirip dengan ku hanya saja wajahnya terlihat bersih dan bersinar, dia memakai jas berwarna biru tua dan baju putih panjang didalamnya, aku tersenyum dia membalas senyum ku, aku mengangkat jari ku, dia juga ikut-ikutan. Aku mengajaknya bersalaman dia pun sama seperti ku ikut mengulurkan tangannya. Sungguh menyebalkan sekali laki-laki itu selalu mengikuti gerakan ku.
Tapi tangan ku seperti menyentuh benda keras, apa ini? Apa dia melapisi tangannya menggunakan kaca supaya tangannya tak menyentuh tangan ku karena takut tangan ku akan menyebarkan racun di tubuh nya? Huh sungguh pemikiran yang konyol. Setelah ku amati lagi dia benar-benar mengikuti gerakan ku sekecil apapun itu. Aku bersiap untuk memukulnya, dia pun melakukan hal yang sama lalu aku terjang dia..
Prrraaaannnngggg…. Ternyata itu cermin, apa ini maksudnya? Aku melihat pakaian yang ku pakai hah ternyata itu adalah bayangan ku dalam cermin.
“Ness , jelaskan pada ku apa maksud semua ini?” aku tak mampu menahan senyum gembira ku.
“Well laki-laki yang kau pukul tadi adalah kekasih ku, orang yang ingin ku kenalkan pada mu“ Nessie berjalan mendekati ku.
“Jadi yang kau maksud itu aku?” aku mengacungkan jari ku kearah diri ku sendiri. Ku lirik Alec dan Alice mentertawakan ku.
“Iya” Nessie mengangguk mantap.
Aku langsung memeluknya, ternyata cinta ku tidak bertepuk sebelah tangan dan ternyata dia tidak menganggap ku kakak lagi melainkan orang yang ia harapkan untuk selalu ada di sampingnya.
Aku melepaskan peluknanya.
“Lalu siapa yang menelpon mu dan kau memanggilnya sayang?” aku mengamati sorot matanya.
“Dia adalah Dady Edward, dad juga yang membelikan ku mobil, aku menggilnya sayang karena ingin mengelabuhimu, dan ternyata berhasil” ia tersenyum penuh kemenangan. Aku mengacak-acak rambutnya yang ikal dan memeluknya lagi.
“Berarti kau berubah feminism karena aku?”
Dia mengangguk mantap “Ya, aku cemburu waktu kau lihat seorang wanita cantik sexy berambut pirang panjang dan ikal, jadi aku berpikir selama aku di Washington aku harus melakukan suatu perubahan” dia menenggelamkan wajahnya di dadaku. Jantungku berdetak cepat tidak seperti biasa.
“Aku mencintai mu jake”
“Aku juga mencintaimu Ness ” aku mencium keningnya.
_The End_
Tidak ada komentar:
Posting Komentar